PT. Sumekar Beli ‘Solar Industri’ ke PPI Rp 6.000/Liter

Publik terasa penasaran dengan harga ‘murah’ BBM jenis solar industri yang dijual PT. Pelita Petrolium Indonesia (PPI) Sumenep, seharga Rp 6.000 per liter, seperti yang disalurkan ke PT Sumekar, keliru satu BUMD Sumenep.

Dalam pernyataannya, kuasa hukum PT. Sumekar, RA. Hawiyah Karim menyampaikan, keliru satu perusahaan milik area yang dibelanya membeli BBM jenis solar industri ke PT. PPI, seharga Rp. 6.000 per liter di luar pajak.

“Kita (PT. Sumekar,red) membeli solar ke PT. PPI seharga itu di luar pajak. Jadi PT. Sumekar mempunyai tanggung jawab untuk membayar pajak di luar nilai pembelian itu. Jadi, keliru satu kapal PT Sumekar yang beroperasi itu memakai solar industri yang dijual oleh PT. PPI, bukan semua kapal ya,” sebutnya.

Disinggung tentang harga pasti BBM jenis solar industri?, Wiwik sapaan akrab RA Hawiyah Karim justru meminta sejumlah media untuk mengkonfirmasi langsung ke PT. Pertamina soal harga paten solar.

“Soal itu bukan kewenangan kami, jadi silakan tanyakan ke PT. Pertamina saja,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah, Manager Comunication Pertamina MOR V Jatimbalinusa, Rustam Aji menjelaskan, di bulan November 2019, harga formal BBM jenis solar non subsidi hampir mirip dengan harga Dexlite dan Pertamina Dex, hanya sedikit lebih tidak mahal di bawahnya.

“Harga solar non subsidi kira-kira 10.000 rupiah per liter, sedikit di bawah harga Dexlite.Kendati di awal Januari 2020 harga BBM terasa turun, tetapi tidak banyak hanya kisaran Rp 700 – Rp 1.500-an per liter, penurunan tiap-tiap jenisnya.

“Tanggal 5 Januari kemarin kan jadi turun, Dexlite berasal dari Rp 10.700 jadi Rp 9.500, waktu Pertamina Dex berasal dari 11.700 jadi Rp 10.200, per liternya,” rincinya.

Sebelumnya, Kuasa Hukum PT. Pelita Petrolium Indonesia (PPI) Sumenep, Farid Fathoni mengakui bahwa perusahaan yang sedang dibelanya pernah menjual BBM ke PT Sumekar, tetapi bukan BBM bersubsidi.

“Kita pernah menjual ke PT. Sumekar, tetapi aku pastikan itu bukan BBM bersubsidi, aku pastikan tidak. Itu solar industri bukan subsidi,” sebutnya.

Advokat berasal dari Komite Supremasi Hukum Indonesia ini apalagi mengklaim, PT. PPI termasuk tidak pernah memberi BBM bersubsidi jenis solar ke PT Jagad Energi.

“Kami mirip sekali tidak pernah membeli BBM bersubsidi jenis solar ke PT Jagad Energi dengan pengukuran flow meter solar ,” terangnya.

Menurutnya, tuduhan pembelian BBM bersubsidi seperti yang disampaikan Polda Jatim pada perusahaan milik Masduki Rahmad, tidaklah benar.

Namun, urusan membeli dan penyaluran atau menjual ke perusahaan lain yang ditunaikan PPI kepada keliru satu BUMD di ujung timur pulau Madura tersebut, dianggap Farid dua hal yang berbeda.

“Urusan menyalurkan dan membeli itu dua hal yang berbeda. Karena menyalurkan itu kan menjual, solar yang dijual PPI kan tidak kudu berasal dari PT. Jagad Energi. Nanti kita buktikan di persidangan,” imbuhnya.

AKBP Sugiharto, keliru satu Tim kuasa hukum Polda Jatim yang diwakili Bidang Hukum, usai sidang kepada sejumlah media menegaskan, pihaknya udah mengantongi alat bukti yang lumayan perihal penetapan Kacab PT Pelita Petrolium Indonesia (PPI) Sumenep, Masduki Rahmad sebagai tersangka.

“Penetapan tersangka, pasti penyidik udah miliki sedikitnya dua alat bukti, nanti dapat dibuktikan pada waktu proses persidangan praperadilan,” singkatnya.

Untuk diketahui, Polda Jatim memastikan Kepala Cabang (Kacab) PT Pelita Petrolium Indonesia (PT PPI), Masduki Rahmad alias Dukmang, sebagai tersangka masalah Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi ilegal.

Penetapan tersangka, setelah perusahaan yang dipimpinnya itu dikira sengaja menimbun solar bersubsidi kemudian menjualnya ke perusahaan lain dengan harga non subsidi.

“Masduki udah jadi tersangka, kemarin digelar (perkaranya),” ucap Kasubdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim, AKBP Wahyudi.

Wahyudi menyampaikan, meski pihaknya sempat membongkar masalah penimbunan BBM Ilegal yang termasuk berlangsung di Madura, di dalam hal ini Kabupaten Bangkalan, tetapi masalah yang menjerat Masduki, berbeda. Kasusnya tidak seperti banyak diberitakan sepanjang ini.

“Ini masalah terpisah, perkara berbeda. Saya pastikan ini temuan berbeda,” tandasnya.

Saat itu, Polda Jatim membongkar dugaan penyelewengan BBM jenis solar di Bangkalan. Dan ternyata, BBM selanjutnya dikira termasuk dipasok ke perusahaan di Sumenep. Salah satunya, PT PPI. Hal ini sehubungan ditemukannya tiga buah tangki duduk berwarna hitam yang berisi solar di Desa Kebun Dadap Barat, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep.

Dalam tangki duduk yang ditempatkan di drum truk itu, polisi mendapatkan solar-solar yang ditimbun tanpa dokumen lengkap. BBM ini dikira dibeli oleh PT PPI berasal dari PT Jagad Energi dengan harga Rp. 5.700 per liter. Selanjutnya dijual lagi dengan harga Rp. 6.000 per liter.

toha