Kedatangan Islam di Indonesia

Meskipun sulit untuk memahami perkembangan Islam yang tepat di pulau-pulau ini (karena tidak ada sumber informasi), jelas bahwa perdagangan internasional merupakan faktor yang sangat penting. Sebagian besar pedagang Muslim dari berbagai negara telah berada di kawasan maritim Asia Tenggara sejak awal era Islam. Sumber awal melaporkan bahwa beberapa masyarakat adat telah memeluk Islam sejak awal abad ke-13.

Baca juga kumpulan doa dalam islam dan panduan sholat pada tautan tersebut.

Sedangkan batu nisan menunjukkan keberadaan kerajaan Muslim di Sumatera Utara pada tahun 1211. Mungkin kerajaan setempat mengadopsi agama baru ini karena dapat memberikan keuntungan dalam berdagang dengan pedagang asing yang umumnya beragama Islam.

Tidak jelas mengapa penduduk asli nusantara tampaknya memeluk Islam hanya beberapa abad setelah agama ini datang dan menjadi populer di daerah tersebut. Baru pada abad ke-15 kerajaan dan kerajaan Islam menjadi kekuatan politik yang dominan di nusantara, meskipun kemudian dikalahkan oleh pendatang baru dari Eropa (Portugis dan Belanda) pada abad ke-16 dan ke-18.

Variasi Islam di Indonesia

Asal-usul Islam di pulau-pulau tersebut memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap komunitas lokal tergantung pada konteks sejarah dan sosial wilayah tersebut. Di beberapa bagian nusantara, kota-kota tumbuh sebagai hasil dari para pedagang Muslim yang membangun pemukiman di sana.

Akan tetapi, di daerah lain, Islam tidak pernah menjadi agama mayoritas, mungkin karena jauh dari jalur perdagangan penting (seperti kawasan timur Indonesia yang jauh dari jalur perdagangan utama, meski ada semacam ‘kekosongan ekonomi’).

Sedangkan di daerah yang memiliki pengaruh kuat terhadap budaya animisme atau Hindu-Budha, penyebaran Islam terhalang oleh budaya yang ada (seperti di daerah Bali yang didominasi budaya Hindu hingga saat ini) atau Islam telah bercampur dengan sistem. – sistem kepercayaan yang ada (animisme) (contoh yang masih dapat ditemukan di Jawa Tengah).

Penyebaran Islam di Indonesia tidak boleh dianggap sebagai proses yang cepat dan berasal dari satu sumber atau sumber. Di sisi lain, lebih tepat dilihat sebagai proses yang dilakukan oleh beberapa gelombang Islamisasi yang erat kaitannya dengan perkembangan internasional di dunia Islam; sebuah proses yang berlanjut hingga hari ini.

Seperti yang telah disebutkan di atas, para pedagang Muslim yang datang ke nusantara pada abad pertama era Islam bisa dikatakan sebagai gelombang pertama. Gelombang kedua di atas telah kami sebutkan, yaitu berdirinya kerajaan Islam di Nusantara (dan setelah raja masuk Islam, masyarakat umum mengikutinya). Topik ini dibahas lebih detail dalam sejarah pra-kolonial Indonesia.

Dua gelombang reformasi penting lainnya yang bertujuan untuk memulihkan kesucian Islam – seperti yang mereka lakukan di zaman Nabi Muhammad – adalah gerakan Wahhabi dan gerakan Salafi. Kedua gerakan itu datang dari jauh: gerakan Wahhabi datang dari Arab dan mulai mempengaruhi nusantara sejak awal abad ke-19, sedangkan gerakan Salafi datang dari Mesir pada akhir abad ke-19. di nusantara.

Perkembangan penting lainnya dalam proses Islamisasi di Indonesia adalah dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869 yang berarti – karena perjalanan ke Mekah menjadi lebih mudah – akan lebih banyak jemaah haji antara Indonesia dan Mekkah. Hal ini menyebabkan proses komunikasi Indonesia dengan pusat-pusat keagamaan di Timur Tengah.

Namun, gelombang Islamisasi bisa saja menimbulkan ketegangan dan keterpisahan umat Islam Indonesia karena tidak semuanya setuju dengan datangnya gerakan ortodoksi Islam. Misalnya, perbedaan antara komunitas modernis (santri) dan komunitas tradisionalis (abangan) karena reaksi masyarakat tradisional terhadap gerakan reformasi di abad 19.

Perbedaan tersebut masih terlihat pada dua ormas Islam paling berpengaruh di Indonesia saat ini. Muhammadiyah, sebuah organisasi sosial yang didirikan pada tahun 1912 di Jawa, mewakili komunitas Islam modernis yang menolak Islam Jawa yang mistis (tradisional). Saat ini, grup tersebut memiliki sekitar 50 juta anggota.

Sebagai reaksi atas berdirinya Muhammadiyah, pemimpin tradisional Jawa itu mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Anggota NU masih dipengaruhi oleh unsur-unsur mistik sebelum masuknya Islam. Tokoh NU juga cenderung lebih toleran terhadap agama lain. Total keanggotaan sekarang sekitar 90 juta orang.

Muchammat Kristanto