Cerita Para Pandai Besi Asal Kampar Hadapi Pandemi

Setiap tahunnya, tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Pada peristiwa ini, bangsa tetap diingatkan dapat perjuangan para pahlawan terdahulu mengusir penjajah. Meski kini telah berubah zaman, tapi nilai-nilai kepahlawanan tersebut tetap terus relevan terlebih bersama begitu banyak ragam tantangan yang nampak sehabis pandemi Covid-19 melanda.

Berjuang selagi ini tidak hanya dimaknai bersama mengangkat senjata, dapat tapi mempunyai arti yang luas. Seperti yang sanggup ditemukan di sebuah Desa Teratak, Kecamatan Rumbio Jaya, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Permukiman ini dikenal sebagai Kampung Pandai Besi, lantaran mayoritas warganya berprofesi sebagai tukang besi. Salah satunya adalah Abbas (77).

Abbas tak bergeming meski wajib dikelilingi panasnya bara dan percikan api yang melenting. Sesekali dia menyeka butiran keringat yang membasahi lembah-lembah tajam di keningnya. Abbas adalah tidak benar satu pintar besi paling senior di sana.

Abbas layak disebut sebagai ‘pahlawan’ dikarenakan dedikasi dan semangatnya menularkan pengetahuan pintar besi di kampung itu. Kini, Abbas menjadi pintar besi paling senior di kampung yang dihuni 250 pintar besi di sana.

Kiprahnya begitu lama. Sejak Sekolah Rakyat, dia telah menasbihkan dirinya sebagai pintar besi, kira-kira th. 1960-an. Abbas selagi ini menjadi kepala tukang. Jabatan setingkat lebih tinggi berasal dari pintar besi yang bernaung di bawah kelompok industri kecil menengah (IKM) Rumbio Jaya Steel, Kampar.

Meski berusia senja, Abbas tak mengeluh bersama pekerjaannya yang kuras tenaga. Dia justru bersyukur bisnis pintar besi yang terjadi puluhan th. dan diwariskan turun temurun tetap terjadi di sedang pandemi Covid-19 layaknya selagi ini. Bahkan berkat kerja keras dia dan ratusan pintar besi lainnya, ekonomi kampung yang mayoritas mengandalkan berasal dari tukang pukul baja itu terus terjaga.

“Alhamdulillah ekonomi di kampung kami ini tetap terus terjadi bersama baik meski selagi ini sedang pandemi,” kata kakek yang telah mempunyai 13 cucu itu.

Rumbio Jaya Steel atau RJS merupakan kelompok IKM yang tertentu produksi alat-alat pertanian, terlebih perkebunan sawit. Perjuangan Abbas tak sendiri. Ada sosok sentral lainnya, Syarial (40), ketua produksi IKM RJS. Senada bersama Abbas, dia menjelaskan bisnis pintar besi itu sejatinya telah tersedia sejak 60 th. silam.

Meski telah lama berdiri, Syarial menjelaskan baru setahun terakhir mereka membentuk kelompok IKM. Sebelumnya, para pintar besi hanya beraksi di masing-masing tempat tinggal mereka. Hingga akhirnya, kampung itu dijuluki Kampung Pandai Besi.

“Ada tiga desa yang mayoritas masyarakatnya menjadi pintar besi. Selain Desa Teratak, tersedia termasuk Desa Simpang Petai dan Pulau Payung. Seluruhnya berada di Kecamatan Rumbio Jaya,” kata Abbas.

Selama ini, mereka memasarkan sendiri product hasil pintar besinya. Bahkan, mereka pernah mengirim hingga ke Kalimantan, Aceh, dan beberapa provinsi lainnya di Sumatera. Namun, pesanan tersebut tak menentu.

Namun, di awal 2020, IKM RJS dilirik PT Perkebunan Nusantara V. Perusahaan punya negara yang bergerak di bidang agroindustri perkebunan sawit dan karet bersama luas areal capai 78.000 hektare tersebut setuju membeli alat-alat panen sawit dan karet senilai lebih berasal dari Rp1,6 miliar.

Kesepakatan tersebut ditandai bersama kontrak pertama yang dilakukan terhadap Februari 2020 lalu. Kontrak pertama itu menjadi titik balik IKM RJS. Mereka kini terus berkembang selagi beberapa besar dunia bisnis diselimuti kebimbangan.

“PTPN V terlalu mendukung dikarenakan pesannya awal pandemi. Banyak orderan, kami menjadi tertolong,” kata Desrico Apriyus, Kepala Pemasaran RJS.

Dia menjelaskan selagi ini seluruh pintar besi di kampung itu, termasuk yang bekerja di sentra IKM RSJ sedang mengerjakan pesanan senilai miliaran rupiah. Alhasil, warga di sana pun beroleh pendapatan tetap hingga lebih Rp 6 juta per bulan. Angka itu lebih berasal dari lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di desa yang berlokasi identik di bibir Sungai Kampar tersebut.

Desrico mengatakan, selain mempunyai pengaruh langsung ke pendapatan warga, ternyata PTPN V termasuk ikut mengangkat citra RJS. Desrico yang merupakan salah satu pengurus bergelar sarjana ekonomi itu menjelaskan PTPN V tidak hanya sebatas membeli peralatan. Namun termasuk ikut mendukung mempromosikan produk-produk RJS hingga tingkat nasional.

“Di awal th. ini, PTPN V mempromosikan langsung product kami di depan Menteri Ketenagakerjaan, Ibu Ida Fauziah selagi peringatan Bulan K3 di Pekanbaru. Lalu, belum lama ini kami termasuk diundang langsung untuk memperkenalkan product kami di depan Ketua DPD RI Bapak La Nyalla Mattalitti,” urainya.

Selain itu, Rico menjelaskan PTPN V termasuk sering memfasilitasi RJS untuk ikut dalam aktivitas pelatihan dan pameran. Dukungan itu sebabkan RJS tambah dikenal lebih-lebih kini merasa kebanjiran pesanan. “Nama kami menjadi dikenal dan saat ini tersedia lima perusahaan perkebunan lainnya yang termasuk telah memesan,” kata dia.

Selain penjualan secara langsung, RJS termasuk menjajakan product hasil tani mereka lewat daring. Langkah itu ditempuh sebagai anggota untuk mendorong bisnis itu sentra pengrajin besi di desa tersebut berkembang cocok kebutuhan zaman.

Masandri, ayah dua anak yang termasuk mempunyai keturunan bakat pengrajin besi berasal dari kakeknya tersebut menjelaskan selagi ini pikirannya lebih tenang bersama dibentuknya IKM RJS. Terlebih, pesanan PTPN V telah menjamin pendapatan penduduk setempat yang 70 persennya melacak nafkah sebagai pintar besi.

“Saya terlalu bersyukur dapur tetap ngepul. Kebutuhan tetap tercukupi. Saya berterimakasih kepada PTPN V dikarenakan telah mempercayakan pengadaan alat panen ini kepada kami,” kata Masandri yang termasuk kepala tukang dan mempunyai lima anggota tersebut.

Di tempat terpisah, CEO PTPN V Jatmiko K Santosa, menjelaskan bahwa pihaknya mempercayakan RJS sebagai pemasok alat-alat panen tersebut dikarenakan mutu para pintar besi yang sanggup memenuhi standar nasional dan ekspektasi Perusahaan.

Selain itu, Jatmiko menyebut perihal tersebut termasuk merupakan wujud prinsip BUMN yang bergerak di sektor perkebunan sawit dan karet ini untuk mendukung program pemerintah supaya mendongkrak perekonomian rakyat di sedang pandemi.

“Kami telah melaksanakan kontrak pengadaan senilai Rp1,6 miliar bersama Rumbio Jaya Steel sebagai wujud Kedatangan kami untuk terus tumbuh dan mensejahterakan masyarakat,” kata Jatmiko.

Lebih jauh, Jatmiko menjelaskan lewat kemitraan yang dibangun PTPN V telah menambahkan multiplayer effect kepada RJS supaya mereka beroleh kepercayaan berasal dari perusahaan perkebunan swasta untuk ikut membeli product lokal.

toha